Post-WCIT civil society statement: A way forward (December 14, 2012)


At the World Conference on International Telecommunication (WCIT) conference in Dubai, ITU member states tried to negotiate new International Telecommunication Regulations (ITRs). We as civil society organizations want to express our concern at the lack of transparency, openness, and public consultations that marked the national preparatory processes and the WCIT discussion in Dubai, despite some efforts to open the process to civil society.

Mindful of the upcoming review of the World Summit on the Information Society process we call upon states to recognize the importance of upholding human rights in all spheres, including the Internet

We further call upon governments to recognize the importance of ensuring meaningful and sustainable civil society participation in all internet governance and policy-making processes which should be both transparent and accountable.

  • We urge governments to promote universal, affordable, high quality and equitable access to the internet
  • Recognizing the necessity of net neutrality for protection of human rights and for innovation we call for the promotion of network equality so that access is free from discrimination, filtering or control on commercial, political or other grounds.
  • Noting that the internet is a medium for both public and private exchange of views and information across boundaries, we call on governments and non-state actors to respect and protect freedom of expression online.
  • Taking into account that privacy is a fundamental human right, we urge the governments and service providers to take all legal, procedural and technical steps necessary to guarantee the right to protection of personal data, including traffic and indirectly identifiable data; the right to secure private communications, including the right to online anonymity and pseudonimity; and the right to be free from unwarranted surveillance and all forms of eavesdropping
  • Realizing that the cultural and linguistic diversity should be protected as legitimate speech, but also as common cultural heritage that enriches humankind as a whole, exhort
  • Governments and service providers to foster and promote the expressions of such diversity without constraints based on cultural, religious or gender bias.

 

—————————————————————————————————————————-

Endorsed by:

  1. Fundação Getulio Vargas, Brazil
  2. Nupef, Brazil
  3. Intervozes, Brazil
  4. Instituto Brasileiro de Defesa do Consumidor, Brazil
  5. Asociacion por los Derechos Civiles, Argentina
  6. Center for Studies on Freedom of Expression and Access to Information (CELE), University of Palermo, Argentina
  7. Via Libre Foundation, Argentina
  8. Centro de Estudios Legales Y Sociales, Argentina
  9. ONG Derechos Digitales, Chile
  10. Colnodo, Colombia
  11. Fundación para la Libertad de Prensa, Colombia
  12. Fundación Karisma, Colombia
  13. Association for Progressive Communications, Global
  14. Cooperativa Sulá Batsú, Costa Rica
  15. Fundación Social TIC, Mexico
  16. Creative Commons Guatemala, Guatemala
  17. Global Partners & Associates, U.K.
  18. Open Society Foundation, Global
  19. KICTANet, Kenya
  20. Consumers International, Global
  21. Center for Democracy and Technology, U.S.A.
  22. Internet Democracy Project, India
  23. CELS, Argentina
  24. IT for Change, India
  25. Open Technology Institute USA

 

Advertisements

Advokat Fajriska Mirza Jadi Tersangka Berawal dari tweet akun bernama @Fajriska di Twitter


Arfi Bambani Amri, Syahrul Ansyari | Jum’at, 14 September 2012, 19:44 WIB

 VIVAnews – Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, M Adi Toegarisman, menyatakan telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) atas nama Muhammad Fajriska Mirza dari Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri. SPDP sendiri terkait kasus pencemaran nama baik Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas), Marwan Effendi.


“SPDP M Fajriska Mirza sudah kami terima tanggal 28 Agustus 2012 yang lalu,” kata Adi di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat 14 September 2012.

Adi mengungkapkan meskipun telah menerima SPDP berkas perkara tersebut belum mereka terima. Namun demikian, mereka telah menunjuk tim jaksa peneliti untuk mengikuti perkembangan penyidikan. “Tim jaksa peneliti dipimpin oleh Andi Taufik,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, akun Twitter @fajriska menuding Marwan Effendi saat menjabat Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi DKI menggelapkan uang barang bukti kasus korupsi Bank BRI pada 2003 silam senilai Rp500 miliar. Tulisan itu lantas di-retweet akun twitter @TrioMacan2000.

Marwan tidak terima namanya disebut-sebut menggelapkan barang bukti. Ia kemudian melaporkan Fajriska ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik dan dugaan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

Fajriska dalam sebuah kesempatan membantah sebagai pemilik akun dalam twitter @fajriska atau @Triomacan2000. Ia mengaku bukan seorang yang gemar menggunakan media jejaring sosial itu.

Sementara akun @Fajriska juga membantah sebagai M Fajriska yang berprofesi pengacara. “Dengan senang hati, saya bukan Fajriska Mirza atau Boy,” kata pemilik akun twitter @fajriska dalam pesan kepada VIVAnews. (sj)

© VIVA.co.id

sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/351473-advokat-fajriska-mirza-jadi-tersangka

ID-CONFIG Kuatkan Tata Kelola Internet Indonesia


JAKARTA– Sejumlah masyarakat sipil (civil seciety orgaization/CSO) di Indonesia mengumumkan terbentuknya sekretariat bersama yang dinamakan Indonesian CSOs Network For Internet Governance (ID-CONFIG) pada hari ini. ID-CONFIG merupakan media antar organisasi masyarakat yang memiliki kepedulian pada isu tata kelola internet dalam lingkup kebebasan berekspresi online dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Diungkapkan Wahyudi Djafar salah satu anggota ID-CONFIG, saat ini terdapat relasi yang kuat antara internet dan HAM. “Jika selama ini HAM lebih terkait ke kehidupan offline, tapi saat ini ada beberapa bentuk ancaman kebebasan internet, antara lain pemblokiran dan filter yang semena-mena sering terjadi di Indonesia, kriminalisasi di internet seperti kasus Prita, dan masalah hal kekayaan intelektual di internet,” kata Wahyudi saat memaparkan tentang ID-CONFIG dan IGF saat acara Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet Indonesia di Ritz Carlton Kuningan, Jakarta, Rabu (12/12/2012).

Salah satu tugas ID-CONFIG ialah menjembatani CSO dengan sejumlah pemangku kepentingan mejemuk dalam menyukseskan putaran ke-8 Internet Governance Forum (IGF) yang rencananya akan dilangsungkan di Bali pada Oktober 2013. Pasalnya, pelaksana dari IGF 2013 merupakan pemangku kepentingan majemuk yaitu pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan CSO.

IGF mengemban mandat dari kesepakatan World Summit on the Information Society (WSIS) di Tunisia pada 2015 sebagai forum dialog pemangku kepentingan majemuk berbagai negara untuk mendiskusikan beragam pendekatan tata kelola internet di dunia. Sejak 2006 hingga 2012, IGF telah digelar sebanyak 7 kali di sejumlah negara.

Untuk itu, kata Wahyudi, diharapkan ID-CONFIG  bisa menjadi media antar organisasi masyarakat dan akan memberikan informasi penting ke publik. Dalam jangka panjang, ID-CONFIG akan terus melakukan berbagai upaya untuk memfasilitasi proses dialog yang transparan dan akuntabel antar pemangku kepentingan mejemuk sebagai cara mewujudkan tata kelola internet di Indonesia yang lebih baik.
(adl)

sumber: http://techno.okezone.com/read/2012/12/12/55/731266/id-config-kuatkan-tata-kelola-internet-indonesia

Aside

Statement of Civil Society Delegates from Southeast Asia to 2012 Asia-Pacific Regional Internet Governance Forum (APrIGF)


31 July 2012

Southeast Asian Civil Society Groups Highlight Increasing Rights Violations Online, Call for Improvements to Internet Governance Processes in the Region

 

We, the undersigned civil society delegates from Southeast Asia who attended and participated in the 2012 Asia-Pacific Regional Internet Governance Forum (APrIGF)on 18-20 July 2012 in Tokyo, Japan, make this statement upon the conclusion of the meeting to highlight the concerns that we raised throughout the forum.

We engaged in this meeting with the objective of raising human rights concerns in relation to the Internet, particularly on issues of freedom of expression and access to information online, as well as the role of civil society in Internet governance and policy making. We organised two panel discussions, namely “Internet in Asia: Space for Free Expression and Information” and “Civil Society in Internet Governance/Policymaking” during the 2012 APrIGF. Through these panel discussions, as well as in other sessions that we participated in, we raised the following human rights concerns in relation to the Internet:

Increasing censorship and attacks to online expression

The space for free expression on the Internet is shrinking. Many governments are extending censorship and control of traditional media to the Internet.In most cases, censorship measures are implemented in a non-transparent manner, which makes it difficult to determine whether the measures taken are in accordance with international laws and standards.

In some countries, citizens who make use of the free space on the internet as bloggers, citizen journalists or social media users become targets of attacks, arrest, and/or threats by state security agents. These actions by state authorities produce a chilling effect on internet users resulting in widespread self-censorship of social and political expression for fear of reprisals from the government or its agents.

We thus call upon all governments to ensure that any measure to limit freedom of expression and the right to information are in accordance with international human rights laws and standards, particularly Article 19(3) of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), which allows for limitations only on narrow and clearly-defined grounds, by passing the “three-part, cumulative test” following the principles of necessity, proportionality (ensuring that it is the least restrictive measure) and transparency.Furthermore, any limitation to freedom of expression, including censorship measures, must be determined by an independent judicial body, and not left to the arbitrary powers of governments or intermediaries. These parameters must apply in all circumstances including during state of emergency and in name of national security or public order.

New laws and legislative amendments that curb freedom of speech online

We are further alarmed by the growing number of laws and policies in Southeast Asia that negatively impact freedom of expression on the Internet.While we recognise the need to address cybercrime and legitimate national security concerns,we are concerned that such laws seek to extend media censorship and criminal defamation to the internet, and are also being used to criminalize individuals or organizations expressing or sharing legitimate social or political critique.

We reiterate that any restriction to freedom of expression on the Internet must not risk citizens’ rights to hold opinions without interference and to freedom of thought, conscience and religion as stipulated in Article 18 of the ICCPR, and it must not be subject to lawful derogation as outlined in UN General Comment No. 34. We stress that any introduction of new laws or legislative amendments, particularly those that could potentially impact human rights, must involve extensive, inclusive and meaningful public consultations. We further urge all governments in Southeast Asia to decriminalise defamation both online and offline.

Additionally, we emphasize that the rule of law and the independence of the judiciary remain among the key challenges to democracy in Southeast Asia.  Law-enforcement agencies and justice systems must presume innocence until defendants are proven guilty, regardless of whether or not defamation is criminal. Certain legislation, including those laws that criminalize online speech and expression,are worth noting here as examples of legislation in Southeast Asia that warrant close monitoring of their enactment or enforcement:

  • Burma – The 2004 Electronic Transactions Act
  • Cambodia – The 2012 Draft Cyber-Law, the 1995 Press Law, and the 2010 Penal Code
  • Malaysia – The 2012 Amendment to the Evidence Act and the 2011 Computing Professionals Bill
  • Indonesia – The 2008 Law on Information and Electronic Transaction and the 2008 Law on Pornography
  • The Philippines – The 2012 Data Privacy Act
  • Thailand – The 2007 Computer Crimes Act, the Article 112 of the Penal Code, and the 2004 Special Case Investigation Act
  • Vietnam – The 1999 Penal Code, the 2004 Publishing Law, the 2000 State Secrets Protection Ordinance, and the 2012 Draft Decree on Internet Management

Intermediary liability

We express our deep concern over the increasing pressures by governments on internet service providers and content hosts to monitor, regulate and censor online content. Consequently, such intermediaries are increasingly being held legally and criminally liable for online content, including content posted by other users.

We reiterate that the regulation of content on the Internet should be determined by an independent judicial body, and not be left to intermediaries. We further echo the call by the UN Special Rapporteur on the promotion and protection of the right to freedom of opinion and expression that intermediaries should not be held liable for online content.

Violations by non-State actors, including those employed by governments

Finally, we are alarmed at the rise of internet vigilante groups acting on behalf of governments or powerful institutions to help monitor sensitive information posted over the Internet through personal websites and social media. Such groups often target persons expressing unpopular opinions and subject them to abusive behaviour and threats. In some cases, such threats have been carried out off-line in the form of discriminatory treatment, physical attacks and even state prosecution of these targets. In addition, critical and independent websites are frequently being targeted for hacking and DDoS attacks.

We strongly remind all governments that it is their primary obligation to promote and protect human rights, and this includes protecting its citizens’ exercise of the right to freedom of opinion and expression from violations by non-state actors online.

Improving the APrIGF Process

While we support and uphold the multi-stakeholder process of the IGF, and value the opportunity to contribute to the global dialogue around these crucial issues, several aspects of the APrIGF are in need of improvement:

  • Participation by governments across Asia was minimal despite the multi-stakeholder framework that this forum purports to promote. This has inevitably limited the dialogues between the different stakeholders on Internet governance inthe Asia-Pacific region.
  • Similarly, there was also inadequate civil society participation at the APrIGF 2012. One of the reasons to this is that there is a perception that the APrIGF is a largely ineffective forum in making needed efforts to advance human rights in cyberspace.
  • Multi-stakeholder discussions on and approaches to emerging human rights issues concerning the Internet were largely limited at the APrIGF 2012.
  • Finally, there was a marked absence or lack of critical assessment of the progress with regard to the implementation of recommendations made at the previous APrIGF. This has contributed to the perception of the APrIGF’s ineffectiveness.

Recommendations to the APrIGF Multi-stakeholder Strategy Group

In view of these shortcomings and with the hope of improving upon the 2012 APrIGF, we offer the following recommendations to the APrIGF Multi-stakeholder Strategy Group for future iterations of this event:

●     To facilitate more robust dialogue and more engagement of those participants who are not speaking on panels, we recommend a more participatory process for sessions, with fewer time spent on panel presentations, and more time dedicated to questions and comments from those in the audience.

●     In the interest of more a diverse dialogue, we recommend that efforts be made to enlarge and broaden the spectrum of attendees at the event. Special effort should be made to encourage government and civil society participation,especially in view of the rare opportunity to discuss such issues within the host country. Additionally, the affordability of the host city and the need for financial assistanceshould be taken into account as a factor that may make civil society participation more or less likely.

●     To encourage broader participation in session dialogues and bolster engagement of civil society, we recommend that strong efforts be made to facilitate inbound remote participation via video conferencing. In addition to the valuable service of live web-casting, remote participants should be empowered to ask questions and make comments within a panel. This could be facilitated with greater integration of social media, within the APrIGF website.

●     To ensure that all issues are well-represented within the conversations at the APrIGF, we recommend that at least one plenary session be dedicated to social issues in internet governance, such as online freedom of expression, access to information and digital divide.

●      To ensure that progress is made on issues discussed at the APrIGF from one year to another, we recommend that one plenary session be dedicated to looking back at the issues raised and recommendations made at the previous APrIGF, and critically assessing progress made on those issues.

Recommendations to Southeast Asian governments

 

In addition, we make the following specific recommendations to our respective governments in Southeast Asia:

  • ASEAN governments must ensure that the ASEAN Human Rights Declaration explicitly and unequivocally protects the right to freedom of expression and freedom of information in accordance with international human rights laws and standards.
  • ASEAN governments should issue a joint statement to pronounce their commitment to uphold Internet freedom.
  • All regional governments should involve civil society meaningfully and inclusively in Internet policy making, especially in drafting laws and policies that potentially impact human rights, including in regional-policy arena that involve the issues related to ICT and internet governance, such as:
    • Regional economic integration by 2015 under the ASEAN Economic Community (AEC). The AEC’s areas of cooperation include a focus on internet governance, such as: “enhanced infrastructure and communications connectivity”; and “development of electronic transactions through e-ASEAN”.  Currently, the AEC encourages only business sector participation and not civil society.
    • The ASEAN CIO Forum under the ASEAN ICT Master Plan 2015 also opens participation only to business sectors.  The forum focuses on CIO16and its objective is to“Taking leadership in collaboration and transformation for a competitive, highly productive and envisage a concrete/positive ASEAN ICT community.” The master plan aims to minimize digital divide and make ICT in the region be empowering, transformational, inclusive, vibrant, and integrated for the people by 2015.
  • All regional governments should attend and engage in regional IGFs to dialogue with other stakeholders, including civil society, on regional issues concerning the Internet.

Signed by:

Arthit SURIYAWONGKULCoordinator

Thai Netizen Network

Bangkok, Thailand

E-mail: arthit@gmail.com

Tel: +66 87 504 2221

Pirongrong RAMASOOTAThai Media Policy Center Bangkok, Thailand

E-mail: pirongrong.r@gmail.com

Tel: +6689 770 8911

Triana DYAHHead, Information &Documentation Division

The Institute for Policy Research and Advocacy (ELSAM)

Jakarta, Indonesia

E-mail: office@elsam.or.id

Tel: +62 21 7972662, 79192564

Fax: +62 21 79192519

Edgardo LEGASPIAlerts &Communication officer

Southeast Asian Press Alliance (SEAPA)

Bangkok, Thailand

E-mail: epl@seapa.org

Tel: +66 8 1116 5137

Fax: +66 2 2448749

Sean ANGExecutive Director

Southeast Asian Centre for e-Media (SEACeM)

Kuala Lumpur, Malaysia

E-mail: sean@seacem.com

Tel: +603 2284 3367

Fax: +603 2289 2579

Victorius (Ndaru) EPSJakarta, Indonesia
NGETH MosesCommunication Coordinator

Community Legal Education Center (CLEC)

Phnom Penh, Cambodia

E-mail: Moses@clec.org.kh

Tel: (855) 66 777 010
Fax: (855) 23 211 723

Sovathana(Nana) NEANGPhnom Penh, Cambodia YAP SweeSengExecutive Director

Asian Forum for Human Rights and Development (FORUM-ASIA)

E-mail: yap@forum-asia.org

Tel: +66 81 868 9178
Fax:+66 2 6379128

Endorsed by:
ICT Watch (Indonesian ICT Partnership Association)Jakarta, Indonesia

Email: info@ictwatch.com

Tel: (021) 98495770

Fax: (021) 8280691

Isu pada keranjang tata kelola internet


Infrastruktur & Standarisasi Hukum Ekonomi Pembangunan Sosial Budaya
  1. Infrastruktur telekomunikasi
  2. Protokol pengendalian transport/Protokol Internet (TCP/IP)
  3. Sistem nama domain (Domain name system/DNS)
  4. Server root (root servers)
  5. Netralitas jaringan
  6. Penyedia jasa internet (Internet service providers/ISP)
  7. Penyedia jasa internet pita lebar (Internet bandwidth providers/IBP)
  8. Model ekonomi dari konektivitas internet
  9. Sistem komputasi awan (cloud computing)
  10. Konvergensi
  11. Keamanan dunia maya (cyber security)
  12. Enkripsi
  13. Spam
  1. Instrumen hukum
  2. Yurisdiksi
  3. Arbitrase
  4. Hak cipta
  5. Merek dagang
  6. Paten
  7. Kejahatan dunia maya (cyber crime)
  8. Undang-undang tenaga kerja
    1. Definisi perdagangan elektronik (E-commerce)
    2. Perlindungan konsumen
    3. Pajak
    4. Tanda tangan digital
    5. Pembayaran elektronik: perbankan elektronik dan uang elektronik
  1. Kesenjangan digital
  2. Akses universal
  3. Strategi mengatasi kesenjangan digital

 

  1. Hak asasi manusia
  2. Kebijakan konten
  3. Privasi dan perlindungan data
  4. Keberagaman bahasa dan budaya
  5. Penyediaan barang milik publik
  6. Hak-hak penyandang cacat
  7. Pendidikan
  8. Keselamatan anak di ranah maya

 

Tautan penting tentang tata kelola internet (Internet Governance)


http://www.intgovforum.org

List of National and Regional IGF Initiatives

Regional IGF Initiatives Websites Annual Reports 2011
African IGF http://afigf.uneca.org/
Arab IGF www.igfarab.org Not Available
Asia Pacific IGF http://www.rigf.asia Asia Pacific Regional IGF Annual Report 2011
Caribbean IGF http://www.connectedcaribbean.com Not Available
Central Africa IGF http://www.fgi-ac.org Central Africa IGF Annual Report 2011
Commonwealth IGF http://www.commonwealthigf.org/ Commonwealth IGF Annual Report 2011
East Africa IGF http://www.eaigf.or.ke/ East Africa IGF Annual Report 2011
European Dialogue on IGF (EuroDig) http://www.eurodig.org EuroDIG Annual Report 2011
Latin America and Caribbean IGF http://lacnic.net/ Not Available
Pacific IGF http://pacificigf.org/ Pacific IGF Annual Report 2011
Southern Africa IGF http://www.ngopulse.org/saigf Not Available
West Africa IGF www.waigf.org West Africa IGF Annual Report 2011
National IGF Initiatives Websites Annual Reports 2011
Bangladesh IGF http://www.bigf.org Bangladesh IGF Annual Report 2011
Brazil IGF http://forumdainternet.cgi.br/
Cote d’Ivoire IGF http://www.igici.ci Not Available
Canada IGF http://cif.cira.ca/ Canada IGF Annual Report 2011
Denmark IGF http://www.itst.dk/ Not Available
Finland IGF http://www.internetforum.fi/ [pdf]
Germany IGF http://www.igf-d.org Not Available
Italy IGF http://www.igf-italia.it Not Available
Japan IGF http://igf-jp.org Japan IGF Annual Report 2011
Kenya IGF http://www.eaigf.or.ke/nigfs/kigf.html Not Available
Netherlands IGF http://www.nligf.nl Not Available
New Zealand IGF http://nethui.org.nz Not Available
Portugal IGF www.isoc.pt Not Available
Russia IGF http://rigf.ru Russia IGF Annual Report 2011
Rwanda IGF Not Available Not Available
Spain IGF http://www.gobernanzainternet.es Not Available
Tanzania IGF http://www.eaigf.or.ke/images/NIGF/200/Tanzania_Nigf.pdf Not Available
Togo IGF http://www.fgi-togo.tg Togo IGF Annual Report 2011
Uganda IGF http://www.eaigf.or.ke/nigfs/uigf.html Uganda IGF Annual Report 2011
Ukrainian IGF http://igf-ua.org Not Available
United Kingdom IGF http://www.ukigf.org.uk United Kingdom IGF Annual Report 2011
USA IGF http://www.igf-usa.us/ IGF USA Annual Report 2011
Others Website Annual Report
Youth IGF Project http://www.youthigfproject.com/ Youth IGF Project Report
Youth IGF www.youthigf.com Youth IGF Message

Tata kelola internet berbasiskan nilai-nilai hak asasi manusia: Induksi pemahaman HAM kepada pengguna Internet di Indonesia


Sejak tahun 2004, tata kelola Internet menjadi fokus diskusi global dan yang paling diperdebatkan pada KTT Dunia tentang Masyarakat Informasi (WSIS,  World Summit on the Information Society). Konsep tata kelola Internet tidak jelas dan membingungkan, dan yang menjadi perdebatan ialah peranan dan tanggungjawab berbagai pihak.Menanggapi permintaan WSIS tersebut, Sekretaris Jenderal PBB membentuk kelompok kerja yang ditugaskan untuk menyelami berbagai isu terkait dengan tata kelola Internet dan untuk mengembangkan pemahaman bersama tentang berbagai peran stakeholder (pemangku kepentingan).Tahap pertama pertemuan WSIS yang diinisiasi PBB kemudian menghasilkan dua dokumen, yaitu Deklarasi prinsip-prinsip (yang memberikan pernyataan kemauan politik untuk membangun masyarakat informasi untuk semua) dan Rencana Aksi (yang merekomendasikan tindakan spesifik yang harus diambil untuk mencapai visi politik tercantum).Dalam rencana aksi WSIS disebutkan “setiap orang semestinya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memahami, berpartisipasi, dan merasakan manfaat dari Masyarakat Informasi (Information Society) dan Ekonomi Pengetahuan (Knowledge Economy), Rencana Aksi juga menyerukan kerjasama regional dan internasional untuk peningkatan kapasitas dengan menekankan kepada penyediaan besar-besaran akan ahli dan profesional teknologi informasi (TI).

Kelompok kerja PBB untuk WSIS mendefinisikan tata kelola Internet sebagai “pengembangan dan penerapan oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, dalam peran masing-masing, prinsip-prinsip bersama, norma, aturan, prosedur pengambilan keputusan, dan program yang membentuk evolusi dan penggunaan Internet”.

Dalam definisi tersebut jelas termaktub tata kelola Internet melibatkan tiga aktor, yaitu pemerintah, sektor swasta (dunia usaha/ korporasi) dan masyarakat sipil. Masyarakat sipil berperan dalam proses pembuatan kebijakan, keterlibatan masyarakat sipil sangat penting agar kebijakan yang dibuat pemerintah lebih partisipatif dan sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Dalam konteks regional dan internasional terdeteksi bahwa representasi dan presentasi negara berkembang, termasuk Indonesia, di forum kebijakan internasional ini masih kurang.Bahkan pengetahuan tentang adanya isu tata kelola Internet tidak dimiliki oleh para pegiat Internet.Padahal hasil penelitian sebuah lembaga internasional mengenai pasar independen, Ipsos, Indonesia menduduki peringkat pertama pengguna media sosial dengan prosentase  83 persen dari 20 persen populasi di Indonesia, meskipun populasi pengguna Internet belum sebanyak negara maju. Selain itu, Indonesia menurut data Socialbakers terkini, merupakan negara terbanyak ketiga dalam populasi di Facebook, dengan 43.523.740 pengguna. Sementara di Twitter, menurut data semiocast.com Februari 2012 lalu tercatat pengguna dari Indonesia mencapai 20 jutaan, atau menempati posisi kelima di dunia. Selain aktifitas di jejaring sosial, penelitian ini juga melihat tingkat penggunaan media sosial di forum-forum online.[1]Data ini merupakan data 3 bulan pertama di tahun 2012.Dari semua data statistik perkembangan sosial media di Indonesia, merujuk data Saling Silang, ada sebanyak 5.270.658 blog di Indonesia. Meskipun jumlah blog tidak selalu sebanding dengan jumlah blogger, mengingat satu orang blogger bisa saja mengelola blog lebih dari dua.

Fakta tersebut di atas menunjukkan tren yang semakin meningkat. Berdasarkan statistik yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (apjii.or.id) pada akhir tahun 2007 pelanggan Internet di Indonesia adalah sejumlah dua juta orang dan pemakai Internet sejumlah 25 juta orang.

Bagaimana mengkaitkan aktivitas berjejaring para netizen dengan aktivitas penegakan hak asasi manusia di Indonesia?Bisa dikatakan netizen adalah agen perubahan yang paling potensial dalam upaya-upaya kampanye penegakan hak asasi manusia. Mereka adalah kelompok yang paling merasakan bilamana ada kebijakan-kebijakan yang menghambat hak berekspresi, hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, kebebasan beropini dan menyatakan pendapat. Negara menjamin hak  setiap warga negara – tidak memandang pada gender, keyakinan dan kepercayaannya, etnis, maupun latar belakang ekonomi- untuk mendapatkan hak-hak tersebut melalui berbagai cara yang tersedia. Jaminan terhadap hak-hak tersebut, termasuk melalui penggunaan internet.

Namun, dalam konteks untuk melaksanakan hak-hak tersebut, baik dalam konteks memanifestasikan hak atau mengakses untuk pemenuhan hak, sering terjadi persinggungan antar hak, dan bahkan yang seringkali melanggar hak-hak.Negara sebagai pemangku kewajiban (duty holder) harus memastikan terlaksananya kewajiban untuk melindungi (to protect), menghormati (to respect) dan memenuhi (to fulfil) hak-hak warga negara sebagai pemangku hak (right holders).Dalam konteks perkembangan internet seperti sekarang ini, sangat penting untuk kemudian memastikan negara melakukan kewajibannya (baik dalam konteks mengatur, memenuhi atau tidak melakukan intervensi) sesuai dengan prinsip dan norma-norma hak asasi manusia.

Internet memungkinkan orang untuk saling terhubung, membuat informasi tersebar dengan cepat dan real-time, memungkinkan pertukaran informasi dan pengetahuan, dan memberi paradigma baru atas kerjasama. Pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana mengatur, menjamin dan melindungi keamanan diri  di tengah ruang kebebasan bertukar informasi dan data di dunia maya? Bagaimana menjaga kerahasiaan data pribadi (data protection) dan transparansi, dan mengapresiasi kebebasan berekspresi sambil tetap menjaga harmoni toleransi?Kebebasan mengemukakan pendapat (ekspresi) di ruang publik seringkali bersinggungan dengan jaminan hak atas privasi, atau perlindungan atas hak atas privasi bersinggungan dengan hak publik untuk memperoleh informasi.

Sejalan dengan Deklarasi Hak Asasi Manusia, setiap orang memiliki hak untuk kebebasan berekspresi. Di internet segala hal bisa ditemukan, dari informasi yang sangat berguna sampai dengan tulisan-tulisan kategori ‘sampah’ yang menghina kelompok dan ujaran kebencian (hate speech) lainnya atau yang bahkan  menyebabkan peperangan. Hal tersebut tidak bisa serta merta dilarang yang perlu ditekankan adalah penggunaan kapasitas internet untuk mempromosikan toleransi dan perdamaian. Persoalannya kemudian bagaimana menyeimbangkan antara hak berekspresi, berpendapat dan sebagainya dengan larangan untuk melakukan kebencian dan propaganda perang?.Dalam konteks inilah, segala ukuran dan batasan-batasan yang dilakukan harus sesuai dengan pembatasan yang dibolehkan (permissible restrictions).

Beberapa isu hak asasi di Indonesia yang menjadi ancaman terhadap kebebasan masyarakat sipil saat ini adalah hate speech(hasutan) oleh perorangan, organisasi kemasyarakat dan –bahkan- pejabat publik terkait dengan keberadaan aliran agama/kepercayaan/keyakinan tertentu yang berkembang di beberapa tempat di Indonesia. Hate speech tersebut cepat beredar melalui media massa mainstream, sedangkan counter isu oleh beberapa organisasi yang memiliki perhatian kepada minoritas tidak terlalu besar pengaruhnya. Isu yang lain adalah isu blasphemy, penghujatan (tetapi  di-indonesiakan menjadi ‘penodaan agama’) isu ini naik belakangan ini, setiap ritual yang menyimpang dari kebiasaan mayoritas dikategorikan sebagai blasphemy. Kasus terbaru mengenai blasphemy menimpa seorang pegawai negeri sipil di Padang, yang menyatakan diri sebagai atheis di statusnya di media sosial facebook.Berdasarkan catatan terdapat 15 kasus blasphemy sejak sepanjang rentang waktu 2005-2012.

Ketidakpahaman masyarakat sipil dalam isu tata kelola Internet menyebabkan peranan masyarakat sipil dalam partisipasi pembuatan kebijakan yang berimplikasi pada pemenuhan hak-hak kebebasan berekspresi, hak berpendapat, hak mendapatkan informasi dan hak-hak lainnya, menjadi sangat lemah.Padahal untuk melahirkan kebijakan yang demokratis dan adil, masyarakat sipil harus dilibatkan dalam setiap proses pembuatan kebijakan. Sehingga yang harus didorong adalah peningkatan dan penguatan kapasitas  masyarakat sipil dalam isu tata kelola Internet; mempromosikan berbagai sasaran kepentingan publik; keterlibatan dalam kebijakan yang bottom-up; mengedepankan perspektif kelompok marjinal; dan mendorong tanggungjawab sosial dan praktek pemerintahan yang baik.