Kritik Kampus, Mahasiswa Semarang Dipaksa Mundur


KAMIS, 19 SEPTEMBER 2013 TEMPO.CO, Semarang – Gara-gara menulis banyak berita miring soal kampusnya, seorang mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, dipaksa mengundurkan diri dari kampus tersebut.

Wahyu Dwi Pranata, nama mahasiswa tersebut, beberapa kali membuat tulisan yang mengkritisi kebijakan di kampusnya. Misalnya, pada 23 Desember 2012 lalu, ia membuat tulisan berjudul “Banner Udinus Tipu Mahasiswa” yang dimuat di situs http://www.wawasanews.com.

Wahyu juga membagikan link tulisannya itu di akun Facebook serta Kompasiana. “Setelah itu, saya dipanggil pihak rektorat,” kata Wahyu, Rabu, 18 September 2013.

Tulisan Wahyu mengkritik pengiriman mahasiswa Udinus ke Malaysia yang katanya kuliah selama satu tahun. Nyatanya, Wahyu mendapatkan informasi dari teman-temannya yang ikut program tersebut: kuliah hanya satu semester.

Wahyu pun dipanggil di ruang Biro Kemahasiswaan dan dipertemukan dengan Rektor Udinus, Edi Noer Sasongko. Di situ, Wahyu diberi penjelasan tentang program Sudent Mobility Udinus itu.

“Saya juga dijanjikan akan diperlihatkan surat MoU tentang program itu, dan saya harus membuat berita baru tentang itu. Tapi hingga kini saya tak pernah diperlihatkan MoU itu,” ujar Wahyu.

Wahyu masih ingat, kala itu Rektor Edi malah berujar, “Kalo Udinus kamu anggap kampus penipu, kamu tahu apa akibatnya bagi seluruh mahasiswa Udinus yang berjumlah 11 ribu dan alumni Udinus yang ada?”

Kali lain, Wahyu juga bersikap kritis atas biaya kuliah. Ia mempersoalkan biaya dan fasilitas kampus melalui tulisannya di blog.

Lagi-lagi, Wahyu dipanggil rektorat. “Kalau kamu merasa di Udinus tidak suka atau jelek, ngomong lah. Atau kamu sekolah di Amikom saja? Nanti tak bayari,” kata Wahyu menirukan ucapan Rektor Edi.

Wahyu menyatakan puncak kemarahan rektorat atas dirinya terjadi pada saat inagurasi mahasiswa baru pada 5 September 2013. Sebagai Ketua MPM periode 2013/2014, ia mengisi acara dengan membaca puisi tentang Indonesia dan Kampusku.

Saat itu, Wahyu bercerita ada beberapa dosen dan staf ikut berjaga di sudut-sudut acara. Selesai acara, ada dosen yang mendekati Wahyu dengan berkata, “Jane ora ngunu kuwi, Yu, carane (Sebenarnya tidak begitu, Yu, caranya).”

Lewat pembacaan puisi itu, Wahyu dianggap menghasut mahasiswa baru. Padahal, ketika itu ia hanya menyatakan negara Indonesia yang kaya-raya tapi banyak rakyat yang tertindas.

“Setelah itu, saya juga menyuarakan transparansi anggaran poliklinik kampus,” katanya. Meski terus dimarahi, Wahyu masih terus menulis kritis atas kampusnya. Di blog-nya, ia menulis artikel berjudul “Kau Renggut Miliaran dari Kami Lalu Kau Perlakukan Kami Seperti Orang Miskin.”

Lagi-lagi, ia pun dipanggil rektorat. Mereka minta agar tulisan itu dihapus. Setelah itu, rektorat Udinus memanggil orang tua Wahyu. Dalam pertemuan rektorat dan orang tuanya, Wahyu ditawari dua pilihan: dijerat pasal pencemaran nama baik dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik ataukah mengundurkan diri.

“Saya tidak punya waktu menganalisis masalah itu. Mereka sudah menyodori kertas yang harus saya tanda tangani dan bermaterai, surat pengunduran diri,” kata Wahyu.

Rektorat kemudian mengembalikan uang kuliah, transkrip nilai, dan semua surat-surat yang dibutuhkan agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi lain.

Ketika dikonfirmasi, Rektor Udinus Edi Noer Sasongko menyatakan, Wahyu telah mengundurkan diri sehingga masalahnya sudah selesai.

“Sudah mengundurkan diri, disertai dengan dia minta maaf. Kalau enggak suka Udinus, ya pisah saja,” kata Edi.

Saat ditanya apakah tulisan Wahyu itu fitnah ataukah fakta, Edi menjawab, “Daripada ribut, ya mengundurkan diri saja. Dia mahasiswa kita. Dia hanya tahu sebagian.”

Pada saat diklarifikasi dan diberikan penjelasan, kata Edi, tulisan Wahyu malah mengalir terus. Edi menegaskan persoalan ini sudah selesai dan tidak usah diperpanjang. “Enggak usah diungkit-ungkit lagi. Kita tutup,” kata Edi. sumber( http://www.tempo.co/read/news/2013/09/19/058514741/Kritik-Kampus-Mahasiswa-Semarang-Dipaksa-Mundur)

Gara-gara membuat status di jejaring sosial Facebook, Yenike Venta Resti harus menjalani proses hukum


21 Februari 2013

Surabaya (beritajatim.com) – Yenike Venta Resti, seorang biduan dangdut yang terjerat kasus pencemaran nama baik melalui situs facebook menangis di persidangan saat membacakan pembelaan atas tuntutan 1,5 tahun yang diancamkan kepadanya. Dia mengaku hidupnya terguncang atas kasus yang menimpannya ini.

“Yang mulia hakim ketua dan jaksa kiranya bisa jadi pertimbangan terus terang saya tidak menyangka hingga saya dan keluarga jadi trauma atas kasus ini, padahal kami sudah damai dengan pelapor dalam hal ini korban dan akibat kasus ini saya tidak bisa mengikuti wisuda, bahkan kelurga saya harus pindah rumah akibat pemberitaan yang kurang berimbang dan cenderung memojokkan saya,” papar Venta saat membacakan surat pembelaannya di kursi sidang sambil sesekali mengusap air matanya.

Sementara itu setelah Venta membacakan pembelaannya Hakim Ahmad Fauzi menunda sidang untuk pekan depan. “Sidang dilanjutkan minggu depan dengan agenda tanggapan dari Jaksa,” tutur Ahmad Fauzi dan mengetuk palunya.

Secara terpisah Gasman Ghazali SH kuasa hukum Venta mengatakan bahwa tiga point yang pembelaan terhadap kliennya adalah karena pelapor Siti dalam kasus ini sama sekali tidak berteman dengan akun Venta. Selain itu nama Siti di kehidupan sehari hari bukanlah nama panggilan sehari harinya dan yang ketiga karena sudah ada damai antara Venta dan Siti.

“Pembelaan kami ada tiga intinya nama Siti itu tak ada dan tak berteman di akun facebook klien kami (Venta), sehari hari nama Siti itu panggilannya adalah Heni, dan point yang terpenting adalah klien kami sudah damai,” tegas Gasman Ghazali SH kuasa hukum Venta.

Diberitakan sebelumnya Yenike Venta Resti dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 ayat 3 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara setelah menulis status di jejaring sosial facebook yang dianggap menghina Siti.

Siti yang merupakan istri Siswandi (bos orkes Chandra Buana) melaporkan hal ini ke aparat berwenang. Siti juga mencurigai adanya perselingkuhan yang dilakukan suaminya dengan Venta setelah melihat sendiri isi SMS antara Venta dengan Siswandi. [uci/ut]

Gara-gara membuat status di jejaring sosial Facebook, Yenike Venta Resti (20 tahun) harus menjalani proses hukum. Penyanyi dangdut di Surabaya ini dituntut 1,5 tahun penjara karena dinilai mencemarkan nama baik seseorang di jejaring Facebook.

Kasus ini berawal ketika Siti Anggraeni Hapsari menemukan kata-kata mesra di ponsel suaminya, Siswandi. Ternyata diketahui, pengirim pesan adalah Venta Resti.
Membaca pesan itu, Siti curiga ada hubungan gelap antara Siswandi dengan terdakwa. Kecurigaan itu benar karena suaminya membenarkan saat ditanya mengenai pesan singkat itu. Siti pun langsung mengirim pesan singkat ke Venta untuk meminta agar menjauhi dan mengakhiri hubungan gelap dengan suaminya.

Venta kemudian melampiaskan kekesalannya di akun jejaring Facebook. Tak terima status Venta di Facebook, Siti langsung melaporkan Venta ke Polisi. Kasus ini pun terus bergulir hingga ke meja hijau.

Biduanita cantik ini ‘sial’ gara-gara facebook (FB-an) dirinya harus berurusan dengan hukum. Kini Yennika Venta Resti, jadi terdakwa dan duduk sebagai pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Dirinya tidak menduga hanya karena mengunggah status FB yang menyindir Siti Anggraeni Hapsari, korbannya.

Dua wanita ini berseteru karena sam-sama ingin mendapat cintanya dari sang arjuna (Siswandi) yang kini diperebutkannya.

Dalam sidang, Djuariyah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) asal Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, mendakwa Yenike. Dalam dakwaan tersebut mejelaskan, bahwa kasus ini diawali adanya dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh suami Siti Anggraeni, Siswandi, dengan terdakwa Yennika. Siti mencium perselingkuhan itu sejak April 2011 lalu, dari pesan singkat di ponsel suaminya.

Dari pesan yang dikirim oleh terdakwa, diketahui bahwa Yennika telah mengirim ucapan mesra melalui ponsel untuk suaminya yang juga telah memiliki dua anak itu. Bahkan, pedangdut muda itu tak sungkan mengucapkan kalimat cinta untuk membubuhi pesan mesranya.

Dirundung kecurigaan itulah, Siti kemudian mengirimkan SMS teguran kepada Yenni. Dalam pesan yang dikirim Siti, memintanya agar tidak meneruskan hubungan dengan suaminya. Namun, bukannya berhenti, Yenni malah semakin menjadi-jadi. Dia tambah rajin mengirim SMS ke Siswandi, bahkan tambah mesra.

Tulis blog soal korupsi, sosiolog Musni Umar dipolisikan


Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Musni Umar menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik terhadap kepala sekolah dan guru-guru SMA 70 Jakarta. Musni adalah Ketua Komite Sekolah SMA 70. Dia berusaha membongkar adanya dugaan penyelewengan uang oleh penyelenggara sekolah.

“Saya menulis blog, bagaimana menjalankan sekolah sesuai teladan Rasulullah di blog saya. Tapi saya malah dituduh mencemarkan nama baik, fitnah dan sebagainya. Saya dilaporkan ke Polda Metro Jaya,” kata Musni saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (27/6).

Komite sekolah mencatat banyak keganjilan yang dilakukan oleh pengajar dan kepala sekolah di sana. Komite sekolah pun melaporkan hal itu pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Kejaksaan. Kepala Sekolah dan guru-guru SMA 70 sempat diperiksa.

“Ada yang ganjil soal penerimaan uang sekolah. Itu jumlahnya sangat besar, puluhan juta,” ujar sosiolog yang sering menjadi pembicara di berbagai media ini.

“Saya sebagai ketua Komite menjalankan fungsi komite yaitu pengawasan, kontrol, memfasilitasi kepentingan sekolah. Nah di sana tIdak ada transparansi dana sekolah. Penerimaan dan pengeluaran sekolah ditutupi. Kalau ditutupi ada apa ini?” lanjutnya.

Pihak SMA 70 akhirnya membentuk komite sekolah tandingan. Komite ini yang akhirnya melaporkan komite sekolah pimpinan Musni Umar ke Polda Metro Jaya.

Musni menggandeng Indonesia Corruption Watch dalam kasus ini. Nanti siang, ICW dan Musni Umar akan menggelar jumpa pers pukul 14.00 WIB soal kasus ini di kantor ICW, Jl Kalibata Timur.

“Ada juga penyerahan sapu lidi sebagai simbol perjuangan untuk menyapu korupsi di sekolah,” tutupnya.

Pihak SMA 70 yang coba dikonfirmasi mengaku tak mengetahui berbagai dugaan penyimpangan yang disebutkan Musni Umar dan Kepala Sekolah. Dia pun menyayangkan tindakan Musni yang mendatangi ICW.

“Harusnya kan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Saya tidak tahu penyimpangan apa yang dimaksud. Sepertinya itu kan lebih urusan komite sekolah. Kalau kami fokus untuk internal saja,” kata Wakil Kepala Sekolah SMA 70 Ahmad Safari ketika dikonfirmasi merdeka.com.

[ian]Reporter : Ramadhian Fadillah Rabu, 27 Juni 2012 11:15:05

Dokter Ira Simatupang : kasus pencemaran nama baik via email


Mantan dokter RSUD Tangerang, Dokter Ira Simatupang yang dilaporkan kepolisi atas laporan pencemaran nama baik, divonis 5 bulan penjara.

Ira Simatupang menjadi korban percobaan perkosaan oleh rekan kerjanya di RSUD Tangerang, setelah melaporkannya ke polisi dan karena tidak cukup bukti di tahun 2009 pihak kepolisian menghentikan penyidikan atas kasus tersebut. Tak lama Ira diberhentikan sebagai dokter ahli kandungan di Rumah Sakit tersebut.

Atas kekecewaannya, di tahun 2010 Ira menulis sejumlah email terkait pelecehan seksual yang dialaminya ke sejumlah rekan dan atasannya. Email inilah yang akhirnya menjerat Ira dalam kasus pencemaran nama baik. Dokter Bambang Gunawan yang saat itu menjabat sebagai atasan Ira di RSUD Tangerang melaporkan bahwa Ira menyebut dan mencemarkan nama baiknya dalam email yang dikirimkan Ira.

Ira didakwa tiga pasal, yakni pasal 45 ayat 1 Junto Pasal 27 ayat 3, UU RI 11/2008 tentang ITE, pasal 310 ayat 2 KUHP, atau tentang penghinaan dengan sengaja menyerang kehormatan agar dikatahui umum, dan terakhir, pasal 311 ayat 1 KUHP tentang pencemaran tertulis dan fitnah.

Ternyata ada juga Genta (Gerakan Sejuta) Dukung DR. IRA Simatupang melalui Facebook, hanya saja nampaknya tidak banyak mendapat dukungan para pengguna Facebook.

Menurut Satelitnews.co.id, 17 Juli 2012 Ira diputus bersalah dan harus menjalani hukuman pidana selama 5 bulan oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Atas putusan ini Jaksa Penuntut Umum akan mengajukan banding.

Johan Yan terancam hukuman penjara enam tahun karena komentarnya di Facebook


Agustus 2013, seorang pengguna Facebook di Surabaya bernama Johan Yan terancam hukuman penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Johan disangka melanggar Pasal 27 Ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik akibat komentarnya di Facebook tentang dugaan korupsi Rp 4,7 triliun di Gereja Bethany Surabaya, Jawa Timur.

Pasal 27 Ayat 3 melarang siapapun untuk menyebarkan informasi online yang punya muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Johan menganggap pasal itu membatasi kebebasan berpendapat di dunia maya. Ia menjelaskan kasus pemidanaan komentar pada media “online” dengan UU ITE itu bermula dari konflik pengurus Gereja Bethany dalam kasus korupsi yang diunggah dari media online ke akun jejaring sosial “facebook” untuk dikomentari. Meskipun sudah meminta maaf, Johan tidak menyangka bila pihak Gereja Bethany tetap memolisikan dirinya.

Saat ini, 13 Agustus 2013 Johan Yan, mengajukan keberatan ke Polda Jatim lewat pengacaranya, M Sholeh. Bahkan, pihaknya melalui pengacaranya akan melakukan “judicial review” ke Mahkamah Konstitusi agar UU ITE direvisi demi melindungi kepentingan publik, sebab Pasal 27 Ayat 3 dari UU itu sangat membatasi kebebasan berpendapat masyarakat umum di dunia maya.