Peretas Situs Dituntut 10 Tahun


Peretas Situs Dituntut 10 Tahun
Sebagian Dana Digunakan untuk Pelatihan di Poso

Jakarta, Kompas – Jaksa menuntut terdakwa perkara terorisme Mawan Kurniawan alias Mawan dengan hukuman penjara 10 tahun dan denda Rp 300 juta atau subsider 6 bulan penjara. Mawan dinilai terbukti membantu Rizki Gunawan, terdakwa lain, meretas situs investasi Speedline dan meraup uang Rp 4 miliar.

Tuntutan itu dibacakan jaksa penuntut umum Rahmat Sori dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (13/6). Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Musa Arif Aini. Terdakwa Mawan didampingi penasihat hukumnya, Ainal.

Rahmat Sori menilai, terdakwa melanggar Pasal 15 juncto Pasal 11 dan Pasal 7 Undang-Undang (UU) Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, UU No 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dan UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menurut Rahmat, sejak kuliah di Bandung tahun 2002, terdakwa Mawan sudah senang meretas (hacking) situs-situs. Sejak 2009, terdakwa juga senang membaca paham-paham radikal dan berita-berita terkait Al Qaeda di internet. Pada Agustus 2010, terdakwa dinilai mulai melakukan deface atau mengubah tampilan depan situs-situs tertentu, seperti situs Panin Sekuritas dan situs Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, antara lain dengan bendera Palestina.

Jaksa Rahmat menambahkan, terdakwa juga telah membentuk tim peretas bersama Rizki Gunawan. Setelah meretas dengan bantuan program yang disiapkan terdakwa Mawan, Rizki mendapatkan uang Rp 4 miliar di Speedline.

Dari hasil itu, lanjut jaksa Rahmat, terdakwa Mawan mendapatkan uang sekitar Rp 300 juta dari Rizki. Sebagian dana itu oleh Rizki, Mawan, dan beberapa rekannya digunakan untuk pelatihan militer di Poso, Sulawesi Tengah.

Atas tuntutan itu, kuasa hukum terdakwa, Ainal, mengungkapkan, dirinya keberatan dengan tuntutan jaksa. Menurut dia, terdakwa Mawan tidak mengetahui bahwa Rizki telah mendapatkan dana Rp 4 miliar dari meretas situs Speedline. Oleh karena itu, terdakwa tidak seharusnya dimintai pertanggungjawaban hukum.

Pembelaan

Dalam sidang terpisah yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Musa Arif Aini, penasihat hukum terdakwa Badri Hartono, Nelli Kurniasih, dan Ainal menyampaikan pembelaan. Dalam pembelaan itu, penasihat hukum terdakwa mengakui bahwa tahun 2011, terdakwa Badri membantu mengirimkan orang-orang yang terdakwa kenal untuk membantu di Poso karena terdakwa mendengar umat Islam di sana akan diserang kembali.

Selain itu, ujar penasihat hukum terdakwa, terdakwa mengetahui adanya kegiatan di rumah terdakwa Rudi Kurnia—terkait dengan kegiatan merakit bahan peledak dan pembuatan bom— setelah mendengar langsung dari Rudi yang menyampaikan kepada terdakwa. Sebelum terdakwa mengetahui kegiatan di rumah Rudi, kegiatan tersebut telah berjalan terlebih dahulu dengan sendirinya.

Seusai sidang, jaksa Nita menjelaskan, dalam sidang perkara terorisme dengan terdakwa Triyatno, majelis hakim telah menjatuhkan hukuman penjara selama 4 tahun kepada Triyatno. Triyanto dinilai terbukti melanggar Pasal 15 juncto Pasal 9 UU No 15/2003. Sebelumnya, terdakwa Triyatno dituntut dengan hukuman penjara selama 5 tahun 6 bulan.

Sesuai dakwaan, menurut jaksa Nita, terdakwa Triyatno berperan menerima bahan peledak nitrogliserin yang dibuat Barkah Nawa Saputra dan menyimpan bahan itu di rumahnya. Bahan peledak yang dititipkan Barkah kepada Triyatno sebanyak satu botol.

Triyatno juga dinilai pernah ikut membantu Barkah membuat detonator saat Barkah berada di Ambon. (FER)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2013/06/14/03131166/peretas.situs.dituntut.10.tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s