Global Initiative Network [GNI] : Laporan Jaringan Inisiatif Global 2012 [Internet, ICT dan Kebebasan Informasi]


In the past year the Global Network Initiative put its principles into action, harnessing the power of its diverse membership—companies, civil society organizations, investors, and academics—to advance freedom of expression and privacy rights worldwide. Highlights include:

  • Seeding a global standard on free expression and privacy rights in the Information and Communications Technology (ICT) sector, with the GNI Principles reflected in draft European Commission guidance, proposed U.S. legislation, and key investor tools including the Dow Jones Sustainability Index. 
  • Defending the open Internet through multi-stakeholder policy engagement:
  1. Collaborating with companies and civil society to block Pakistan’s procurement of a massive Internet filtering system.
  1. Meeting with government officials in Thailand to advocate against the onerous application of intermediary liability.
  2. Slowing the rush to pass the Communications Data Bill in the United Kingdom, overbroad legislation that could undermine UK support for free expression and privacy internationally.
  3. Raising our collective voice in support of legal reforms in India, Russia, Vietnam, and the United States, and on network shutdowns and blocking in India, Syria, and Tajikistan.
  • Deepening relationships with companies across the ICT sector:
  1. Forming a new two-year collaboration with eight global telecommunications companies: Alcatel-Lucent, France Telecom-Orange, Millicom, Nokia Siemens Networks, Telefonica, Telenor, TeliaSonera, and Vodafone.
  2. Working with new companies Websense and Evoca.
  3. Welcoming observer companies Facebook, the world’s largest social network, and Afilias, a key provider of back-end Internet infrastructure.
  • Internationalizing our membership, adding new civil society participants from Azerbaijan and India, and translating our core documents into Arabic, Chinese, French, Russian, and Spanish. 
  • Advancing accountability by creating the first independent case review assessment process for ICT companies on freedom of expression and privacy, and accrediting the first set of GNI assessors.
  • Influencing the global debate on human rights in the technology sector:
  1. Publishing “Digital Freedoms in International Law” a report by Ian Brown and Douwe Korff.
  2. Contributing to European Commission consultations and influencing the development of corporate responsibility standards for the ICT sector.
  3. Convening policymakers and experts from government, companies, academia, investors, and civil society at our first Annual Learning Forum.

full report, download here 

Janji Dinikahi Teman Facebook, TKW Dibius di Hotel


JAKARTA, KOMPAS.com – Desi Susilawati, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia yang bekerja di Taiwan, menjadi korban penipuan serta pembiusan seorang pria yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial, Facebook.

Uang dan ponsel hasil jerih payahnya senilai puluhan juta rupiah raib digondol sang pelaku.

Desi menuturkan, ia mengenal pria yang mengaku bernama Iwan Adi Nugroho tersebut sejak bulan Maret 2012 melalui jejaring sosial Facebook.

Saat perkenalan itu adalah tahun kedua Desi bekerja sebagai TKW di salah satu rumah sakit khusus lansia di Taiwan.

“Kita memang pacaran di Facebook. Belum pernah ketemu sih sebelumnya. Katanya dia mau nikahin saya bulan Mei besok,” ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (13/4/2013) siang.

Awal Maret 2013, kontrak kerja Desi di rumah sakit tersebut usai. Lalu pada 7 Maret 2013, Desi pun bertolak ke Jakarta.

Sang kekasih yang tak pernah dilihatnya secara langsung itu pun berjanji menjemput Desi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Sang kekasih yang memiliki ciri-ciri fisik bertubuh pendek, berbadan gemuk dan berkulit hitam tersebut memang menjemput Desi.

Namun, dia tidak mengantar Desi pulang ke rumahnya di Cipinang Muara III, Jatinegara, Jakarta Timur. Pria itu justrimembawa Desi ke Hotel New Idola di Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur.

“Saya dikasih minum sebelumnya sama dia. Habis itu sudah nggak sadar lagi. Sadar-sadar saudara saya datang nyariin saya di hotel itu. Saya kaget pelakunya sudah nggak ada di situ,” ujarnya.

Setelah memeriksa barang-barangnya, Desi kehilangan 1.800 dollar AS hasil jerih payahnya selama bekerja dua tahun di Taiwan.

Selain itu, dua buah ponsel Sony Ericson dan Nokia senilai sekitar Rp 3 juta juga raib. Desi akhirnya mengakui selama kenal dengan pelaku melalui Facebook, ia kerap mentrasfer uang dengan jumlah total mencapai Rp 26 juta.

Bersama saudaranya, Desi pun melaporkan kejadian tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Sektor Matraman. Namun, hingga saat ini, Polisi belum bisa menangkap pelaku.

Editor :
Ervan Hardoko

 

 

sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/14/01094031/Janji.Dinikahi.Teman.Facebook..TKW.Dibius.di.Hotel

Gara-gara Kasus Prita, Konsumen Indonesia Jadi Takut Komplain


Gara-gara Kasus Prita, Konsumen Indonesia Jadi Takut Komplain

Zulfi Suhendra – detikfinance
Selasa, 16/04/2013 14:15 WIB

Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengakui sikap
konsumen di Indonesia masih belum berani untuk mengadukan jika merasa
dirugikan atau tidak puas terhadap suatu layanan. Hal ini ditandai
dengan angka kasus pengaduan di Indonesia yang masih rendah.

Budaya mengadu dari konsumen Indonesia masih rendah, jika dibandingkan
dengan negara-negara lain, budaya mengadu di Indonesia sangat jauh di
bawah negara-negara lain.

“Budaya mengadu kita itu masih rendah. Di Indonesia masih 620 kasus yang
masuk ke YLKI,” kata Ketua Harian YLKI Sudaryatmo saat ditemui di acara
Seminar Peningkatan Perlindungan Konsumen Penerbangan, di Balai Kartini,
Jalan Gatot Subroto, Selasa (16/4/2013).

Sudaryatmo mencoba membandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang
sudah mencapai 25.000 keluhan per tahun. Padahal jumlah penduduk kedua
negara tersebut jauh di bawah Indonesia.

“Di Hong Kong itu 31.000 aduan/tahun. Di India itu ada hotline setahun
70.000. Di Amerika bisa lebih luar biasa lagi 1,2 juta,” jelasnya.

Ia menuturkan rendahnya tingkat aduan masyarakat untuk menyuarakan
keluhannya karena beberapa faktor. Diyakini masih banyak konsumen yang
terkesan tutup mulut jika memiliki keluhan. Terlebih, ada sedikit rasa
trauma masyarakat dari kasus “pengaduan Prita” yang berujung pada kasus
hukum. Kasus Prita Mulyasari dengan Rumah Sakit Omni Internasional di
Tangerang, berawal gara-gara e-mail keluhan Prita yang dianggap
mencemarkan nama baik rumah sakit.

“Ada kasus Prita itu masyarakat jadi enggan mengadu. Surat pembaca pun
jadi menurun,” jelasnya.

Sejatinya, masyarakat memiliki keberanian untuk menyampaikan keluhan dan
aduan saat mereka mengalami ketidakpuasan pelayanan baik ke YLKI ataupun
ke lembaga-lembaga pengaduan konsumen lainnya.

http://finance.detik.com/read/2013/04/16/141552/2221640/4/gara-gara-kasus-prita-konsumen-indonesia-jadi-takut-komplain?f9911023

Copyright for Librarians : the essential handbook [unduh gratis]


Copyright for Librarians: the essential handbook

Penerbit: Berkman Centre for Internet and Society, diterbitkan 11 Januari 2013.

“Copyright for Librarians” (CFL) is an online open curriculum on copyright law that was developed jointly with Harvard’s Berkman Center for Internet and Society.

Re-designed as a brand new textbook, “Copyright for Librarians: the essential handbook” can be used as a stand-alone resource or as an adjunct to the online version which contains additional links and references for students who wish to pursue any topic in greater depth..(sumber: http://cyber.law.harvard.edu/publications/2013/copyright_for_librarians)